Jumat, 03 September 2010

Pasar Properti Asing di RI Capai Rp22,5 Triliun

JAKARTA: Potensi pasar properti asing di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan bisa menembus US$2,5 miliar atau sekitar Rp22,5 triliun apabila pemerintah memberikan kepastian regulasi tentang status kepemilikan asing yang selama ini masih menggantung.

Berdasarkan kajian Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), kalangan pengembang bisa memberikan tambahan pasokan properti kepada orang asing sebanyak 10.000 unit dalam 3-5 tahun setelah regulasi kepemilikan asing dipertegas.

Ketua Umum DPP-REI F. Teguh Satria mengatakan kepemilikan properti oleh asing akan berdampak cukup besar bagi Indonesia. Pasar properti khusus sektor ini berpotensi mencapai hingga US$2,5 miliar.

Menurut dia, perhitungan tersebut berdasarkan asumsi harga rata-rata properti kelas menengah atas sekitar US$250.000 (Rp2,25 miliar) per unit dikalikan dengan potensi penyerapan pasar properti asing sekitar 10.000 unit.

“Dana sebesar itu pasti bisa menggerakkan industri hulu dan hilir properti,” katanya petang ini.

Selain itu, papar Teguh, potensi orang asing untuk memiliki properti di dalam negeri cukup besar mengingat harga lahan di Indonesia cukup murah dibandingkan dengan harga lahan di luar negeri.

Berdasarkan informasi dari Global Property Guide, hingga awal kuartal II/2010, harga rata-rata lahan properti di Indonesia paling murah dibandingkan dengan 11 negara Asia lainnya, atau hanya sekitar US$1.381 per m2, sedangkan harga termahal ditempati Hong Kong senilai US$16.422 per m2.

Harga rata-rata lahan di Indonesia ternyata juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan Kamboja, Filipina, dan Malaysia.(jha)

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Industri Properti Sumut Tumbuh 30%

MEDAN: Industri properti di wilayah Sumatera Utara pada semester II/2010 diperkirakan tumbuh 30% seiring dengan melonjaknya permintaan rumah seharga Rp200 juta ke bawah.

Rusmin Lawin, Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) wilayah Sumut mengakui memasuki semester II/2010 peningkatan permintaan propert di Medan meningkat sekitar 30% dibandingkan dengan kondisi semester I/2010.

"Ada peningkatan permintaan untuk jenis dan tipe rumah seharga Rp200 juta ke bawah. Sedangkan rumah mewah saat ini mengalami permintaan yang stagnan," ujarnya kepada Bisnis di Medan hari ini.

Menurut dia, permintaan itu dipicu oleh keluarnya bonus karyawan BUMN, perusahaan asing, dan swasta plus tunjangan hari raya (THR) yang dibayarkan perusahaan.

Lebih jauh, dia menjelaskan ada pergeseran selera konsumen mengenai rumah yang dibangun para pengembang. Konsumen, jelasnya, kurang tertarik dengan perumahan yang luas karena masalah keamanan.

Masyarakat, paparnya, lebih suka pada komplek yang jumlahnya 50 rumah sampai 100 unit saja, sehingga setiap tetangga bisa saling mengenal dan kemananpun mudah diawasi.

Menurut dia, secara keseluruhan bisnis properti (perumahan, perkantoran, perhotelan, dan bisnis ikutannya) masih tumbuh dan berkembang, sehingga perbankan tetap menjadikan properti sebagai salah satu penyalurkan kredit.

Branch Manager PT Bank Tabungan Negara (BTN) Medan Hulmansyah menilai pasar perumahan di daerah ini masih menjanjikan. Sebagai bank yang khusus menyalurkan kredit untuk perumahan, BTN yakin pertumbuhannya akan terus meningkat.

"Seperti kami sampaikan, BTN tahun ini menargetkan penyaluran kredit tumbuh 30% dari tahun lalu atau sebesar Rp16 triliun," tuturnya. (gak)

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Pengembang di Jatim Keluhkan Harga Semen

SURABAYA: Pengembang di Jatim mengeluhkan harga semen di dalam negeri yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan produk impor sejenis, seiring dengan kebutuhan terhadap komoditas tersebut yang semakin tinggi menyusul membaiknya sektor properti.

Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Jatim Henry J Gunawan mengatakan harga semen di Jatim saat ini sekitar Rp55.000 per 100 kg. Sementara itu harga komoditas tersebut di luar negeri rata-rata  hanya  US$25 per 100 kg.

"Disparitas harganya cukup jauh, sedangkan pengembang tidak bisa menghindari karena tidak mungkin mendatangkan sendiri dari luar negeri,” ujar Henry di Surabaya hari ini. Itu sebabnya, lanjut dia, harga properti di Indonesia terus merangkak karena  selain mengikuti pergerakan suku bunga kredit, inflasi  juga mahalnya harga bahan bangunan. ”Baru satu item yakni semen saja perbedaan harganya relatif tinggi, belum lagi bahan bangunan yang lain seperti besi dan sebagainya," tuturnya, hari ini.

Pengembang, katanya, dihadapkan pada persoalan dilematis. Di satu pihak harga semen sangat mahal di pihak lain kebutuhan tersebut sangat mendesak karena banyak proyek properti yang dijadualkan selesai tahun ini. Belum lagi pembangunan infrastruktur yang mulai diluncurkan kembali setelah sebelumnya sempat tertunda.

Dia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian bagi industri semen di dalam negeri. Setidaknya mereka harus siap memacu penambahan produksi. Jika kapasitas produksi pabriknya tetap seperti sekarang dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya kelangkaan semen.

"Bisa saja harga semen diserahkan ke mekanisme pasar. Tetapi harus ada keseimbangan antara suplay dan demand. Pasalnya tren kenaikan pembangunan properti sudah mulai terlihat pada kuartal III 2010. Jangan sampai pengembang kesulitan memperoleh produk bersangkutan," tambahnya. (gak)

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Industri Properti Tak Terganggu Memanasnya Hubungan RI - Malaysia

Jakarta - Praktisi industri properti nasional mengakui tidak terimbas ketegangan hubungan diplomatik antara RI-Malaysia. Hal itu tercermin dari belum adanya gangguan yang dialami dari sisi suplai dan demand di sektor industri ini.

"Saya belum melihat ada dampak sama sekali. Industri properti belum terasa karena suplai dan demand-nya masih normal,” ungkap Direktur Capital and Investment Management PT Intiland Development Tbk, Archied Notopradono, kepada primaironline.com, di Jakarta, Kamis (2/9).

Archied menyatakan, tidak ada keterkaitan secara langsung antara persoalan yang tengah berlangsung di ranah politik seperti kasus memanasnya hubungan diplomatik kedua negara dengan aktivitas di bidang perekonomian. Hal itu terbukti dari normalnya arus hubungan dagang di antara kedua negara.

"Terus terang saya memang tidak punya data konkret. Tapi tim marketing kami tidak memberikan informasi adanya hambatan di lapangan terkait persoalan itu. Konkretnya, aktivitas bisnis lancar-lancar saja. Diharapkan memang tidak ada keterkaitan langsung antara masalah memanasnya suhu politik di antara kedua negara terhadap iklim usaha,” tandasnya.

Seperti diketahui, dalam beberapa pekan terakhir hubungan antara kedua negeri serumpun memang tengah bergejolak. Hal ini antara lain dipicu oleh penahanan terhadap tiga orang petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Riau Kepulauan saat mereka tengah berpatroli di wilayah perairan Indonesia yang tak jauh dari perbatasan kedua negara.

Presiden SBY juga telah memberikan respons terhadap persoalan ketegangan antarkedua negara dengan menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk meningkatkan aktivitas diplomasi serta menuntaskan masalah tapal batas.

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Kamis, 02 September 2010

BPD Kian Gencar Salurkan KPR dan KPA

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Pembangunan Daerah (BPD) semakin gencar menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Juni lalu, industri BPD telah menyalurkan KPR dan KPA sebesar Rp 10,87 triliun. Angka ini melejit 251,78 persen dibandingkan penyaluran KPR dan KPA pada Juni 2009 yang sebesar Rp 3,09 triliun.

Direktur Dana dan Jasa Bank Jabar Banten Tatang Sumarna mengatakan, pertumbuhan KPR dan KPA BPD yang pesat ini merupakan dampak dari laju pembangunan proyek perumahan dan apartemen baru di Indonesia. "Dengan banyaknya stok rumah, pengajuan KPR - KPA dari masyarakat meningkat," ujarnya.

Pertumbuhan KPR dan KPA juga ditopang oleh gencarnya sosialisasi BPD kepada masyarakat. BPD pun mengikuti langkah bank-bank umum yang menggandeng beberapa pengembang properti untuk meningkatkan penyaluran KPR dan KPA. "Saat ini, kami bekerjasama dengan dua pengembang properti," kata Tatang.

Bank Jabar Banten sendiri hingga Juni 2010 telah menyalurkan kredit perumahan Rp 72,8 miliar. Melihat kinerja tersebut Bank Jabar Banten optimistis, penyaluran KPR tahun ini bakal lebih besar dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 102 miliar. “Kami ingin KPR tumbuh lebih dari dua kali lipat,” katanya.

Sejatinya, BPD mulai menyalurkan KPR dan KPA sejak Mei 2009. Waktu itu, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) membuat produk KPR bersama bernama KPR BPD. Produk ini menyasar pegawai negeri sipil (PNS).

Pemimpin Divisi Kredit Ritel Bank Jatim Partono menilai, pertumbuhan KPR BPD semakin marak dengan pembangunan rumah, terutama rumah bersubsidi. "Kami memang banyak menyalurkan kredit ke sektor ini," ujarnya. Tahun ini, Bank Jatim menargetkan pembiayaan KPR sebesar Rp 200 miliar. (Roy Franedya/KONTAN)

"Juni lalu, industri BPD telah menyalurkan KPR dan KPA sebesar Rp 10,87 triliun. Angka ini melejit 251,78 persen dibandingkan penyaluran KPR dan KPA pada Juni 2009 yang sebesar Rp 3,09 triliun." -- Tatang Sumarna

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Rabu, 01 September 2010

Cina Bangun Rumah Murah


Pemerintahan kota Cina dan para menteri telah diberitahukan untuk membangun lebih banyak perumahan murah.

Mereka diperintahkan untuk mendorong pengembang perumahan lebih cepat menyelesaikan proyeknya untuk menurunkan harga properti.

Perintah itu datang dari kabinet pemerintahan Cina, Dewan Negara di tengah kekhawatiran melonjaknya harga-harga properti.

Selain itu perintah Dewan Negara untuk mencegah spekulasi investor asing yang mendorong naik harga-harga properti.

Pemimpin Cina khawatir harga-harga perumahan di banyak kota naik terlalu cepat.

Uang panas
Jika terlalu banyak orang Cina tidak mampu membeli properti dikhawatirkan menyebabkan instabilitas ekonomi dan sosial.

Tahun lalu bank-bank Cina mengeluarkan pinjaman baru senilai AS$ 1,5 triliun untuk menenangkan pasar ketika menghadapi krisis finansial.

Diperkirakan seperenam pinjaman itu mengalir ke sektor properti dan oleh karena itu ada kekhawatiran mesin ekonominya "terlalu panas".

Perintah baru dari Dewan Negara ditujukan untuk meningkatkan pasokan bagi rumah-rumah kecil dan lebih murah bagi keluarga yang berpenghasilan rendah.

Dewan Negara mendesak lembaga-lembaga keuangan untuk membuat aturan yang mendorong pembeli properti pertama kali dan mencegah mereka yang ingin membeli rumah kedua untuk investasi.

Pemerintah juga ingin menghentikan apa yang disebutnya "uang panas" mengalir masuk ke Cina.

Ini adalah uang tunai dari investor asing yang ingin menyaksikan naiknya harga di Cina sebagai peluang mencari untung.

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

China Kekang Harga Properti dan Perbanyak Rumah Murah

Pemerintah China, hari Jumat (5/3/2010), berjanji mengekang kenaikan harga real estate untuk menepikan investasi yang spekulatif dan memperbanyak rumah murah di tengah kekhawatiran gelembung properti merusak ekonomi yang tumbuh dengan cepat.

Berbicara di depan acara tahunan parlemen, Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan, Beijing akan mengambil tindakan tegas terhadap praktik-praktik ilegal yang bertujuan menaikkan harga. Tindakan tegas ini untuk menjamin "kesiapan dan pengembangan pasar real estate".

"Kami akan bersikap tegas, mengekang kenaikan harga perumahan di sejumlah kota dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat akan rumah," tandasnya.
Pinjaman bank besar-besaran pada tahun 2009 telah memicu kekhawatiran bahwa banjir uang tunai telah menyebar dan itu dilakukan spekulan properti.

Harga di 70 kota utama di China naik 9,5 persen pada bulan Januari 2010 dari bulan yang sama tahun lalu. Ini laju tercepat sejak April 2008, demikian yang terungkap dalam data resmi terbaru.

Beijing telah berusaha mendinginkan sektor properti dengan membatasi pemberian pinjaman, memperketat syarat bagi pembeli yang membutuhkan rumah kedua dengan mengharuskan menyetor uang muka minimal 40 persen, serta menaikkan suku bunga pinjaman hipotek.

"Kami akan berusaha lebih keras lagi untuk menangani pelanggaran undang-undang dan aturan lainnya, seperti menjaga lahan yang tidak digunakan, melakukan penimbunan tanah, dan mengikat harga properti," kata Wen dalam Kongres Rakyat Nasional.

"Pemerintah akan meningkatkan pasokan lahan untuk apartemen berukuran kecil dan menengah untuk dijual di tingkat harga medium dan rendah, dan mendorong masyarakat untuk menyewa," kata Wen.

Beijing telah mengalokasikan dana 63,2 miliar yuan (atau 9,3 miliar dollar AS) untuk perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah. Anggaran tahun ini naik 8,1 miliar yuan dibandingkan anggaran tahun lalu.

Wen menambahkan, pemerintah berencana membangun tiga juta rumah dan merenovasi 2,8 juta rumah di daerah-daerah kumuh, serta mengembangkan program memperbaiki rumah-rumah reyot di pedesaan.

"Ini merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memandu pasar properti di China," kata Wen, Sabtu (6/3/2010). "Saya yakin pemerintah akan menjamin perkembangan pasar properti yang sehat," tandasnya.

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)