Minggu, 06 Juni 2010

Beli Rumah Baru Atau Rumah Bekas?

Anda tentu pernah membaca berita tentang rumah bekas tempat tinggal presiden Amerika Serikat, Barack Obama di Menteng Dalam yang ditawar senilai Rp 1,5 miliar. Rumah yang sederhana ini sudah banyak ditawar orang, namun pemiliknya yang sekarang tidak berniat menjualnya. Bagi Anda yang sudah berniat ingin membeli rumah lama, cerita tadi bukan untuk membuat Anda khawatir. Tapi sebagai bukti bahwa rumah lama pun masih diminati banyak pembeli dan bisa bernilai jual tinggi. Dan buat Anda yang masih ragu untuk membeli rumah baru atau lama, ada baiknya Anda simak hasil perbandingan dua tipe rumah ini.


 Rumah bekas (second)
  1. Beberapa keuntungan dari rumah bekas ini di antaranya mendapatkan lokasi yang baik, harga yang relatif lebih murah, dan ukuran lebih besar dibandingkan rumah baru di kawasan perumahan.
  2. Jika anda memilih rumah yang sudah dipakai, biasanya Anda bisa langsung menempati rumah tersebut setelah ada transaksi jual beli, tanpa harus menunggu waktu yang lama. Karena itulah, sebagian besar pembeli rumah bekas adalah keluarga muda. Khususnya yang baru menikah dan ingin segera menempati tempat tinggalnya.
  3. Umumnya rumah-rumah lama punya halaman yang luas, karena dulu dibangun di atas tanah yang masih murah. Hal ini sudah jarang ditemui pada rumah-rumah baru, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Dan buat Anda yang senang berkebun atau kegiatan outdoor, rumah ini pasti menjadi impian Anda.
  4. Sebagian masyarakat berpandangan, membeli rumah bekas juga lebih menjamin aktivitas sosial saat tinggal di kawasan perumahan. Karena biasanya, rumah bekas yang dijual terletak di kawasan hunian yang telah dipadati penduduk. Kondisi seperti itu terkadang tidak bisa dimiliki ketika membeli rumah baru.
  5. Ketika membeli rumah bekas, sebaiknya tidak hanya tergiur tampilan luarnya, tapi juga harus mengetahui kondisi rumah tersebut secara keseluruhan. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari biaya perbaikan yang membengkak.
  6. Tetangga-tetangga sekitar rumah biasanya sudah saling mengenal. Keakraban ini akan menciptakan suasana yang nyaman dan rasa kekeluargaan yang erat.
  7. Sejarah rumah menentukan harga. Sama seperti cerita rumah Obama di atas, rumah yang pernah ditinggali selebritis atau pejabat, harganya cenderung lebih tinggi dari rumah sekitarnya. Atau mungkin juga pernah tersiar kabar bahwa sering terlihat makhluk halus bergentayangan di rumah tersebut, maka harga rumah cenderung menurun dibandingkan rumah sekitarnya. Untuk itu, tanyakan sejarah rumah kepada pemilik rumah sebelumnya atau cari tahu kepada tetangga dan agen properti yang menangani rumah tersebut.
       Rumah baru
  1. Harganya relatif lebih murah. Karena umumnya dibangun di luar pusat bisnis/pusat kota dengan harga tanah yang lebih murah. Dan rumah-rumah baru dari pengembang (developer) ini bisa memberikan harga yang lebih masuk akal dan sesuai isi kantong Anda.
  2. Akui saja kalau rumah baru punya sensasi yang lebih hebat bila dibanding dengan rumah bekas (second). Apalagi jika Anda membeli rumah baru sekaligus dengan perabotannya. Suasana baru akan sangat terasa ketika Anda menempatinya.
  3. Komunitasnya lebih seragam. Sama-sama warga baru, dengan tipe rumah sama, luas rumah sama, dan di lokasi yang sama. Kondisi ini biasanya memudahkan sosialisasi antar warga.
  4. Pengembalian investasi yang bagus. Seperti pembelian properti investasi lainnya, jika tepat waktu dan lokasinya, membeli rumah baru dari developer bisa menjadi sangat menguntungkan.
  5. Namun jika Anda memilih rumah yang masih dalam tahap pembangunan, biasanya Anda harus siap menunggu rumah Anda dibangun terlebih dahulu dan biasanya ini memakan waktu yang lama. 
Merry Sondang/berbagai sumber
Foto: doc.net

     

Jumat, 14 Mei 2010

autoblackthrough 2010

pada hari sabtu dan minggu tanggal 7-8 kemaren bosmobil.com salah satu dari group PT. Anugerah Gelindo berkesempatan untuk mengikuti event Djarum Black autoblackthrough 2010 yang diadakan di Surabaya. Berikut merupakan hasil dokumentasi dari bosmobil.com yang berhasil gw dapetin.


Sumber : http://www.bosmobil.com/

Selasa, 11 Mei 2010

Tahun 2011, Semua Bangunan Sekolah Terapkan Green School


JAKARTA, KOMPAS.com -  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan seluruh gedung sekolah pada tahun 2011 menerapkan green school building. Ini merupakan upaya Pemprov DKI Jakarta melaksanakan green property, selain menerapkan konsep green buliding standard pada gedung-gedung tinggi di ibu kota.
Tahun 2010 ini, ada dua gedung sekolah yang dijadikan proyek percontohan yaitu, sebuah SD di Semanan, Jakarta Barat dan SMPN 1 Cikini, Jakarta Pusat. Kedua sekolah ini dibangun dengan menerapkan green building secara utuh.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, mulai tahun ini hingga tahun depan, Pemprov DKI akan menerapkan green building standard untuk bangunan sekolah, baik tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Sebab DKI ingin menjadikan gedung-gedung sekolah sebagai contoh dan teladan yang baik untuk seluruh bangunan yang akan didirikan di ibu kota.
"Kalau pemerintah saja bisa mendirikan bangunan sekolah dengan menerapkan green building standard maka tidak ada alasan pihak lain tidak bisa menerapkan hal tersebut," kata Fauzi Bowo di Jakarta, Sabtu (8/5).

Pembangunan green school building akan dipusatkan dengan konsep penghematan energi listrik, penggunaan air yang bisa didaur ulang, dan pemanfaatan limbah sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan. Untuk bahan bangunan gedung sekolah, akan diupayakan menggunakan bahan eco- friendly (ramah lingkungan). Termasuk di dalamnya tidak terlalu banyak menggunakan kayu. Karena akan mengakibatkan penebangan pohon di hutan secara tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, konsep green school building merupakan bagian proses pendidikan lingkungan kepada siswa, sehingga mau tidak mau siswa yang sekolahnya sudah berorientasi lingkungan dan mengadaptasi kaidah lingkungan tadi harus memahami pentingnya mencintai dan pelestarian lingkungan.
"Ini juga dapat membantu pembentukan karakter siswa dan manusia Indonesia untuk mencintai lingkungan dan bertanggung jawab melestarikan lingkungan. Barangkali Jakarta kota pertama yang menerapkan konsep ini," tuturnya.

Terkait konsep green school building, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan DKI, Didi Sugandhi, mengatakan, sebenarnya sudah cukup banyak gedung sekolah yang telah menerapkan konsep tersebut. "Gedung sekolah lainnya sudah menerapkan konsep green school tapi belum secara menyeluruh," kata Didi.

Menurutnya, masing-masing sekolah mulai menerapkan untuk meminimalisir penggunaan listrik, kemudian mengoptimalkan sinar tata surya untuk energi listrik. Selain itu akan memaksimalkan limbah cair sehingga bisa digunakan kembali dan membuat lubang biopori.

Biaya perawatan lebih murah
Memang anggaran pembangunan gedung sekolah berkonsep green school building lebih mahal daripada biaya membangun gedung biasa. Namun, biaya pemeliharaannya lebih murah dibandingkan gedung biasa. Untuk tahun ini, rencananya ada 42 gedung sekolah yang akan direhab total oleh Dinas Pendidikan DKI. Seluruhnya tentu akan menerapkan konsep green school building. "Targetnya tahun 2011 seluruh gedung sekolah sudah berkonsep green building," ujarnya.

Kepala Dinas Perumahan DKI, Agus Subardono, mengatakan, untuk menerapkan konsep green building secara utuh, satu bangunan sekolah bisa menelan biaya antara Rp 9 miliar hingga Rp 19 miliar. Sejumlah anggaran itu, Rp 5 miliar di antaranya hanya untuk pembelian solar cell dengan kapasitas daya 6000 watt. Jumlah tersebut belum mencakup rehab konstruksi bangunan yang menelan biaya antara Rp 4 miliar hingga Rp 14 miliar.

"Namun penerapan green building pada sekolah tidak menggunakan solar cell seluruhnya. Hanya beberapa kelas. Sisanya bagaimana bangunan itu didesain agar bisa hemat energi," katanya. Misalnya lebih banyak menggunakan jendela, ventilasi, dan mengurangi penggunaan air conditioner (AC). Selain itu, penggunaan air secara hemat, pengolahan sampah sendiri dan lebih banyak menggunakan kayu pada konstruksi bangunannya. (Berita Jakarta)

Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/05/10/19143448/tahun.2011.semua.bangunan.sekolah.terapkan.green.school. 

Hanya Miring di Bawah 1 Derajat, Kok DPR Heboh?


Oleh Yuni Ikawati

Pengukuran kemiringan gedung di Jakarta telah dilakukan pada Gedung I Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Keduanya miring. Namun, apakah kemiringannya masih dalam batas wajar?

Pengukuran struktur gedung di Jakarta pertama kali dilakukan pada Gedung I Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 2002. Hasilnya, gedung berlantai 21 yang dibangun pada 1974 itu miring 1 derajat ke arah timur atau ke Jalan MH Thamrin di depannya.

Penelitian itu terkait dengan penetapannya sebagai gedung percontohan oleh (dahulu) Departemen Pekerjaan Umum untuk memenuhi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 yang mengatur keamanan konstruksi serta keselamatan—antara lain kelengkapan sistem pemadam kebakaran, kenyamanan, dan kemudahan akses. "Jika gedung ini belum memenuhi persyaratan, akan dilakukan perancangan ulang dan perbaikan," ujar Pariatmono Sukamdo, pakar konstruksi dari BPPT.

Gedung I BPPT sebelumnya milik Advanced Technology Pertamina. Penyerahan kepada BPPT dilakukan tahun 1978 bertepatan dengan berdirinya badan riset itu. Selain Gedung I BPPT, Gedung DPR juga termasuk proyek percontohan (sekarang) Kementerian PU. Dalam pengukuran juga diketahui miring. Ini dikuatkan dengan hasil pengukuran Tim Kelompok Kerja Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menggunakan electronic total station yang terdiri dari teodolit elektronis dipadukan dengan pengukur jarak elektronis.

Tim yang terdiri dari Heri Andreas, Irwan Gumilar, dan M Gamal, Selasa (4/5), mengungkapkan, Gedung DPR miring sekitar 7,5 menit atau 0,12 derajat. Hasil ini jauh dari isu sebelumnya, yaitu miring sebesar 8 derajat. Ini diungkapkan Hasanuddin Z Abidin, Ketua Kelompok Kerja Geodesi ITB.

Menurut Pariatmono, kini Asisten Deputi Bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kementerian Riset dan Teknologi, kemiringan dua gedung di bawah 1 derajat masih dalam batas wajar atau tidak sampai mengganggu kenyamanan penggunanya.

Kemiringan itu merupakan dampak proses konsolidasi lapisan tanah dalam yang menerima tingkat pembebanan yang relatif tinggi.

Derajat kemiringan berbeda karena kondisi lapisan tanah dalam yang berbeda. Kemiringan Gedung BPPT lebih besar dibandingkan dengan Gedung DPR. Penurunan tanah di BPPT yang berada di wilayah tengah Jakarta lebih besar dibandingkan dengan Gedung DPR yang berada di selatan. Kawasan BPPT dan sekitarnya terdiri dari batuan muda atau endapan sungai yang tengah mengalami proses konsolidasi.

Berdasarkan data pengukuran Dinas Pengembangan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, penurunan permukaan tanah di kawasan pusat Jakarta 60-80 cm, sedangkan di kawasan selatan sekitar 40 cm.

Penurunan ini diakibatkan volume pengambilan air tanah hingga lapisan akuifer yang dilakukan terus-menerus tanpa ada pengisian kembali. Semakin ke utara, tingkat eksploitasi air tanahnya semakin tinggi.

Berkurangnya air tanah itulah yang menyebabkan penurunan tanah yang lingkupnya kawasan. Menurut peneliti BPPT, Samsuhadi Samoen, penurunan muka tanah di Jakarta antara satu kawasan dan yang lain tidak merata.

Penurunan tanah di Jakarta yang terdiri dari tanah endapan diikuti oleh intrusi atau perembesan air laut dari utara yang terus bergerak masuk ke darat. Intrusi di kawasan selatan, menurut Samsuhadi, susah terdeteksi karena bercampur dengan air purba yang juga asin yang meluas hingga ke Bogor.

Pengukuran kondisi
Peraturan berwujud UU No 28/2002 mengharuskan setiap pengelola gedung bertingkat di Indonesia memeriksa kondisi gedung terhadap empat aspek tersebut.

Untuk itu, perlu ada dokumentasi gambar teknis struktur dari setiap gedung. Di Jakarta, yang paling pesat pembangunan gedung-gedung tingginya, hingga kini belum memiliki sistem informasi bangunan (building information system) yang menyimpan semua data tersebut.

Pariatmono, yang juga Kepala Pusat Informasi Riset Bencana Alam, menegaskan, informasi ini penting untuk simulasi dan skenario kebencanaan, terutama ketahanan gedung, terhadap gempa. Ketiadaan dokumen ini mempersulit pemecahan masalah dan perbaikan gedung.

Menurut Hari Sasongko, Ketua Badan Pengawasan Pembangunan DKI Jakarta, dokumen teknis setiap bangunan yang mendapat izin mendirikan bangunan di Jakarta sebenarnya tersimpan di Dinas Arsip DKI.

Dokumen itu meliputi gambar konstruksi struktur bawah dan atas, desain arsitektur, serta instalasi di dalam bangunan yang terdiri dari kelistrikan dan perpipaan serta akses transportasi di dalam gedung. Di DKI kini ada lebih dari 700 gedung di atas delapan lantai. Kelayakan bangunan di DKI diperiksa pengkaji teknis setiap lima tahun. Gedung pemerintah diperiksa Kementerian PU.

Audit bangunan
Berdasarkan UU No 28/2002, lanjut Pariatmono, semua gedung seharusnya diaudit untuk standardisasi. Kini belum ada perusahaan yang menangani audit prasarana gedung.

Hal lain yang harus dilengkapi adalah peta zonasi untuk gempa skala mikro. Dari kajian, diketahui daerah yang terbanyak korbannya adalah sekitar Jakarta Utara. Selain itu, pembuatan rute darurat juga diprioritaskan di Jakarta Pusat, lokasi pusat pemerintahan.

Untuk itu, perlu skenario akses mencapai daerah itu dalam periode emas, yaitu 1-2 jam. Jalur evakuasi perlu ditentukan dan diamankan. Jalur tersebut harus diperkuat agar tetap berfungsi pascabencana.

Pemasangan akselerometer di gedung-gedung bertingkat diperlukan untuk mengetahui kinerja gedung terhadap beban dinamis, termasuk gempa.

Jika ada akselerometer, dapat diketahui perilaku dinamis gedung, apakah sama atau tidak dengan analisis dinamis seperti yang telah dilakukan sebelum gedung dibangun. Hingga kini, sayangnya belum ada panduan cara memasang akselerometer di gedung tinggi. Pemasangan akselerometer di Gedung BPPT oleh Kementerian Riset dan Teknologi, antara lain, ditujukan untuk membuat panduan semacam itu, ujar Pariatmono. (KOMPAS Cetak)
YUN
Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/05/10/08535897/hanya.miring.di.bawah.1.derajat.kok.dpr.heboh. 

Pendapatan Bakrieland 2010 Ditargetkan Rp 1,3 Triliun


JAKARTA, KOMPAS.com  - Keberhasilan PT Bakrieland Development Tbk meningkatkan penjualan dalam kuartal I tahun 2010 diperkirakan masih akan berlanjut mengingat iklim di sektor properti terus membaik ditandai dengan turunnya bunga kredit pemilikan rumah (KPR).

"Kami memperkirakan pendapatan tahun 2010 tumbuh 25 persen menjadi Rp1,31 triliun dengan beroperasinya jalan tol Kanci Pejagan, pusat hiburan dan Bakrie Tower serta akan beroperasinya Pullman Bali Legian Nirwana dan Aston Hotel Bogor," kata Presiden Direktur & CEO Bakrieland Hiramsyah S. Thaib di Jakarta, Selasa.

Hiramsyah mengatakan, tingkat bunga deposito dalam kisaran 5 hingga 7 persen dibanding tahun lalu yang sempat mendekati 13 persen membuat proyek properti yang memiliki tingkat pengembalian tinggi akan menjadi incaran pembeli atau investor.

"Untuk itu, tren peningkatan penjualan produk Bakrieland yang sudah dimulai sejak awal tahun lalu akan berlanjut tahun ini," kata Hiramsyah menjelaskan.

Bunga KPR di bawah 10 persen juga merupakan salah satu alasan kuat bagi pembeli untuk melakukan pembelian tempat hunian mengingat tahun 2009 suku bunga KPR sempat berada pada level cukup tinggi sekitar 17 persen yang menyebabkan pembelian relatif tertahan.

Hiramsyah mengatakan, pendapatan selama kuartal pertama 2010 terutama didukung oleh unit bisnis City Property dan Hotel & Resort yang memberikan kontribusi masing-masing sebesar 50,1 dan 28,7 persen terhadap pendapatan Bakrieland. 


Sedangkan unit bisnis Landed Residential serta Infrastruktur terkait properti yakni jalan tol memberikan kontribusi pendapatan masing-masing sebesar 16,6 dan 4,6 persen.

Pendapatan dari unit bisnis City Property sebagian besar dari proyek perkantoran strata dengan kontribusi sebesar 26,8 persen. Sedangkan proyek apartemen memiliki kontribusi sebesar 19 persen.

Sementara itu, pendapatan dari unit bisnis Landed Residential, Bogor Nirwana Residence memberikan kontribusi terbesar yaitu 70,4 persen, diikuti Ijen Nirwana Residence dan Batam Nirwana Residence dengan kontribusi masing-masing sebesar 24,6 dan 4,7 persen.

Neraca keuangan Bakrieland meskipun posisi "leverage" (pinjaman) pada kuartal I 2010 meningkat tetap masih sehat.

Naiknya leverage dalam upaya memperbesar tingkat pengembalian kepada pemegang saham, Bakrieland tetap memiliki neraca yang sehat, hal ini tercermin dari rasio kewajiban dengan beban bunga (interest bearing liabilities) terhadap ekuitas atau DER per 31 Maret 2010 yang masih dibawah 100 persen yaitu sebesar 65,1 persen (DER tanpa Equity-linked Bonds). Posisi "leverage" ini akan semakin rendah bila menggunakan rasio net gearing sebagai acuan sebesar 37,2 persen.

Sementara itu, Net Asset Value (NAV) Bakrieland per 31 Desember 2009 adalah Rp580 per lembar saham. Hal ini mencerminkan bahwa saham Bakrieland yang diperdagangkan pada kisaran Rp240-Rp250 per lembar pada saat ini menawarkan valuasi yang sangat menarik.

Hiramsyah mengatakan, tahun 2010 merupakan tahun serah terima proyek Bakrieland kepada masyarakat di antaranya jalan tol ruas Kanci -Pejagan diresmikan pada awal 2010, Epicentrum Walk telah pula diresmikan pada bulan Maret 2010.

Pada Juni 2010, setidaknya 2 proyek Bakrieland diperkirakan mulai resmi beroperasi yaitu Bakrie Tower dan Pullman Bali Legian Nirwana, strata hotel yang saat ini sudah laku terjual hampir 87 persen.

Sementara itu Bogor Nirwana Residence, sebagai unit usaha Landed Residential Bakrieland, akan membuka 3 (tiga) kluster baru yaitu  Harmony 3, Harmony Boulevard dan The Cliff. Penambahan tiga kluster ini yang merupakan kluster menengah dan menengah atas, adalah sebagai respons atas tingginya permintaan untuk memiliki tempat tinggal di daerah yang masih sehat dan sejuk. (ANT/KSP)

KSP
Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/04/27/19220384/pendapatan.bakrieland.2010.ditargetkan.rp.13.triliun. 

Sembilan Bank Syariah Peroleh Rp 250 Miliar dari REI Expo


JAKARTA, KOMPAS.com -  Gabungan dari sembilan bank Syariah ini dalam REI Expo 2010 berhasil memprospek transaksi mencapai Rp 250 miliar.

"Dari prospek konsumen tersebut memang tak semuanya terealisasi, tapi paling tidak lebih dari 50 persen biasanya 'jadi'," kata Project Manager REI Expo 2010 dari PT Debindomulti Adhiswasti selaku organizer acara, Titi Aris.

Menurut Titi, tawaran khusus yang diberikan iB selama pameran memang cukup menarik minat pengunjung. Perbankan syariah anggota iB menawarkan cicilan tetap sampai masa akhir kontrak, masa pembiayaan hingga 15 tahun, serta bebas pinalti untuk pelunasan awal. Beberapa bank seperti BNI Syariah, bahkan berani memberikan kredit dengan bunga 7,5 persen dan bebas biaya provisi.

"Penyelenggaraan REI Expo 2010 ini menandai bangkitnya kembali industri properti dan perekonomian nasional paska krisis, apalagi dengan dukungan tren penurunan suku bunga dan peningkatan layanan perbankan," kata Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti, Dwi Karsonno.

Berdasarkan pengamatan Titi, jumlah kunjungan masyarakat ke lokasi pameran meningkat di bandingkan tahun lalu saat industri properti lesu diterpa krisis. Walau tak bisa menyebutkan angka pasti jumlah pengunjung (pengunjung bebas masuk tanpa tiket), Titi memperkirakan jumlah pengunjung per harinya berkisar 2.000 orang. "Jumat-Minggu meningkat hingga sekitar 8.000 orang," kata Titi. (Nadia Citra Surya/KONTAN)

Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/05/10/21504770/sembilan.bank.syariah.peroleh.rp.250.miliar.dari.rei.expo 

REI Expo Capai Target


JAKARTA, KOMPAS.com -  Pengunjung berjubel layaknya saat pameran Inacraft di Jakarta Convention Center (JCC) tak nampak dalam Real Estate Indonesia Expo 2010 yang berlangsung dari 1 Mei hingga 9 Mei 2010 . Meski demikian, sejumlah peserta pameran mengaku bahwa kondisi tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Transaksi yang terkumpul pun cukup cemerlang.

Project Manager REI Expo 2010 dari PT Debindomulti Adhiswasti selaku organizer acara, Titi Aris menjelaskan jumlah pengembang yang mengikuti pameran memang turun. "Jika tahun lalu ada 99 pengembang, tahun ini hanya 90 pengembang," kata Titi.

Namun menurutnya penurunan tersebut bukan karena peminat berkurang, melainkan karena ada peserta pameran yang mengambil space lebih besar serta masuknya iB yang mengambil stand cukup besar. "Makanya ada beberapa pengembang yang tak bisa ikut karena tak kebagian tempat," jelasnya.

Berdasarkan pengamatan Titi, jumlah kunjungan masyarakat ke lokasi pameran meningkat di bandingkan tahun lalu saat industri properti lesu diterpa krisis. Walau tak bisa menyebutkan angka pasti jumlah pengunjung (pengunjung bebas masuk tanpa tiket), Titi memperkirakan jumlah pengunjung per harinya berkisar 2.000 orang. "Jumat-Minggu meningkat hingga sekitar 8.000 orang," kata Titi.

Hingga hari terakhir pameran kemarin, panitia penyelenggara masih terus mengumpulkan data rekap transaksi dari para pengembang. "Data yang masuk baru 40 persen dari total, tapi secara sepintas, nampaknya transaksinya cukup baik," kata Titi.
Ia menyebutkan, Alam Sutera sebagai salah satu peserta yang telah memasukkan data transaksi, hingga petang kemarin telah mengumpulkan sekitar Rp 80 miliar transaksi. (Nadia Citra Surya/KONTAN)

Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/05/10/21443015/rei.expo.capai.target.