Selasa, 10 Agustus 2010

Mari Beli Rumah Murah via Lelang


Kalau Anda membeli rumah sekunder dari agen properti ataupun pemiliknya, itu sudah biasa. Namun, membeli rumah tersebut via lelang, pernahkah terpikir oleh Anda? Bila tak pernah terpikir, itu tak janggal. Sebab, membeli rumah sekunder via lelang memang bisa dikatakan belum terlalu dikenal.

Padahal, dari situ, Anda bisa mendapatkan sejumlah keuntungan. Yakni, bisa mendapatkan rumah berharga murah, di bawah harga pasar. Sudah begitu, kualitas rumah tersebut bisa saja masih bagus. Menarik, bukan?

Bagaimana sih seluk-beluk beli rumah sekunder via lelang? Mari kita simak bersama sejumlah penjelasan tentang itu :

  1. Untuk bisa beli rumah sekunder via pelelangan, jelas Anda tak bisa langsung berhubungan dengan pemilik aset. Namun, mesti berhubungan dengan balai lelang pemerintah ataupun swasta yang ditunjuk oleh pihak pemohon lelang. Biasanya, yang dilelang adalah rumah yang disita bank, lantas dilelang. Bank sering memublikasikan adanya rumah yang dilelang via media massa. Juga,di kantor mereka, bank pun sering memberitahukan keberadaan rumah—ataupun properti lain—yang akan dilelang. Nah, di sisi lain, ada pula rumah yang dilelang bukan karena disita pihak lain. Namun, karena sang empunya secara suka rela menyerahkan untuk dilelang.
  2. Untuk bisa mengikuti lelang rumah sekunder , Anda perlu mengikuti sejumlah aturan. Antara lain, mesti membayar uang jaminan dengan nilai tertentu ke penyelenggara lelang. Biasanya, nilai uang tersebut sebesar 20% sampai 50% dari batas taksiran terendah harga rumah yang dilelang—bila tidak menang lelang, tentu uang tersebut dikembalikan. Pun, Anda mesti memenuhi sejumlah tetek bengek administratif. Misalnya salinan KTP alias Kartu Tanda Penduduk.
  3. Sudah tentu, dalam lelang, bila menawarkan harga tertinggi, Anda dinyatakan sebagai pemenang lelang. Dan berhak memiliki rumah yang diincar. Anda lantas mesti melunasi pembayaran harga rumah itu. Lantas, Risalah Lelang akan diberikan ke Anda. Itu merupakan sejenis Akta Jual Beli yang digunakan dalam pengurusan balik nama sertifikat rumah, juga digunakan dalam membayar BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan: semacam pajak yang dikenakan untuk transaksi jual beli tanah dan bangunan).
  4. Sekadar informasi, membeli rumah sekunder  via lelang memang kadang-kadang mesti punya otot ekstra kuat. Maklum, konsekuensi hukum bisa saja datang sewaktu-waktu. Khususnya bila rumah itu merupakan aset sitaan. Bila rumah sekunder yang Anda beli dilelang oleh balai lelang pemerintah lewat penetapan pengadilan, Anda perlu lebih cermat. Di sini, bisa saja rumah tersebut masih dikuasai oleh pemilik jaminan alias belum dikosongkan. Alhasil, begitu memenangkan lelang, Anda mesti mengajukan permohonan pengosongan kepada Pengadilan Negeri tempat rumah itu berada. Atau, bila enggan adu urat saraf, Anda perlu bernegosiasi dengan penghuni dalam memberikan uang damai. Mencegah hal seperti itu terjadi, sebaiknya Anda melakukan hal ini: mencek dengan teliti—antara lain dengan melihat langsung—kondisi rumah yang akan dilelang.
  5. Ada satu hal lagi yang penting. Yakni, sebenarnya yang bisa dibeli via lelang tak semata-mata rumah sekunder. Ya, Anda tepat: rumah primer pun kadang-kadang bisa dibeli via lelang. Hal itu terjadi bila pihak pengembang menginginkan efisiensi waktu dan biaya pemasaran/penjualan rumah ataupun apartemen . Maklum, cukup lewat sekali aktivitas penjualan (lelang), properti yang dijual bisa ludes. Tak seperti lewat aktivitas pemasaran konvensional yang makan waktu lama, bisa berbulan-bulan. Namun, di Indonesia, penjualan rumah primer via lelang bisa dikatakan belum menjamur. Itu tak sama dengan di sejumlah negara lain.
Dhit/Berbagai Sumber

Kamis, 05 Agustus 2010

Lah, Ada Perilaku yang Tidak Green

Lah, tanpa kita sadari, ternyata beberapa perilaku yang sehari-hari kita anggap lazim dilakukan, sama sekali tak mendukung penanggulangan bahaya pemanasan global.
Tentu, perilaku tersebut mesti kita raibkan. Dengan demikian, kita semua berperan serta memangkas tingkat pemanasan global.
Berikut ini beberapa perilaku nan tak ramah lingkungan tersebut :




  1. Tidak segera mencabut charger telepon genggam dari colokan listrik. Sebagian di antara kita acap lalai: tak mencabut charger telepon genggam dari colokan listrik dalam jangka waktu lama. Padahal, jelas bahwa dalam hal itu ada energi (listrik) yang mubazir. Jadi, saat baterei telepon genggam penuh, segeralah melakukan pencabutan tersebut.



  2. Tidak mematikan kran saat tengah menggosok gigi ataupun mencukur kumis di wastafel. Tahukah Anda bahwa menggosok gigi sementara air terus mengucur di kran, merupakan satu pemborosan? Bayangkan, dari situ, air yang terbuang percuma bisa mencapai 9 liter. Maka, rajinlah mengontrol pemakaian air saat menggosok gigi di wastafel, demikian pula saat mencukur kumis ataupun jenggot.



  3. Tidak menggunakan kantong plastik berulang kali. Jangan langsung buang kantong plastik yang Anda dapatkan usai membeli sesuatu dari toko ataupun warung. Simpan, dan gunakan berulang kali. Ingat: kantong plastik perlu waktu sangat panjang untuk didaur ulang Bumi. Oh, ya, lebih baik lagi bila Anda menggunakan kantong plastik belanja untuk dipakai berulang kali—berukuran besar—yang kini rajin ditawarkan di pasar swalayan.



  4. Melulu menggunakan selang saat mencuci kendaraan bermotor. Gunakan ember dan gayung untuk mencuci kendaraan bermotor, jangan melulu andalkan aliran air deras dari selang. Dengan cara ini, Anda mengirit penggunaan air bersih.



  5. Tidak menggunakan shower saat mandi. Sebenarnya, mandi dengan gayung lebih boros air ketimbang dengan shower. Alhasil, tatkala di kamar mandi Anda ada shower, gunakanlah.



  6. Tidak mematikan lampu ataupun peralatan elektronik yang tak digunakan. Kita semua mungkin sering melakukan hal tersebut, bahkan telah membiasakan hal tersebut. Bayangkan, televisi dibiarkan melulu hidup tanpa ada yang menonton. Atau, saat pergi untuk waktu lama, pendingin udara ataupun kipas angin di kamar terus beroperasi. Semua itu tentu berujung ke pemborosan energi (listrik): satu perilaku yang jelas tak ramah terhadap kesinambungan Bumi kita tercinta.

Dhit/Berbagai Sumber

Foto: Gettyimages/ Mcmillan Digital Art

Minggu, 06 Juni 2010

Beli Rumah Baru Atau Rumah Bekas?

Anda tentu pernah membaca berita tentang rumah bekas tempat tinggal presiden Amerika Serikat, Barack Obama di Menteng Dalam yang ditawar senilai Rp 1,5 miliar. Rumah yang sederhana ini sudah banyak ditawar orang, namun pemiliknya yang sekarang tidak berniat menjualnya. Bagi Anda yang sudah berniat ingin membeli rumah lama, cerita tadi bukan untuk membuat Anda khawatir. Tapi sebagai bukti bahwa rumah lama pun masih diminati banyak pembeli dan bisa bernilai jual tinggi. Dan buat Anda yang masih ragu untuk membeli rumah baru atau lama, ada baiknya Anda simak hasil perbandingan dua tipe rumah ini.


 Rumah bekas (second)
  1. Beberapa keuntungan dari rumah bekas ini di antaranya mendapatkan lokasi yang baik, harga yang relatif lebih murah, dan ukuran lebih besar dibandingkan rumah baru di kawasan perumahan.
  2. Jika anda memilih rumah yang sudah dipakai, biasanya Anda bisa langsung menempati rumah tersebut setelah ada transaksi jual beli, tanpa harus menunggu waktu yang lama. Karena itulah, sebagian besar pembeli rumah bekas adalah keluarga muda. Khususnya yang baru menikah dan ingin segera menempati tempat tinggalnya.
  3. Umumnya rumah-rumah lama punya halaman yang luas, karena dulu dibangun di atas tanah yang masih murah. Hal ini sudah jarang ditemui pada rumah-rumah baru, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Dan buat Anda yang senang berkebun atau kegiatan outdoor, rumah ini pasti menjadi impian Anda.
  4. Sebagian masyarakat berpandangan, membeli rumah bekas juga lebih menjamin aktivitas sosial saat tinggal di kawasan perumahan. Karena biasanya, rumah bekas yang dijual terletak di kawasan hunian yang telah dipadati penduduk. Kondisi seperti itu terkadang tidak bisa dimiliki ketika membeli rumah baru.
  5. Ketika membeli rumah bekas, sebaiknya tidak hanya tergiur tampilan luarnya, tapi juga harus mengetahui kondisi rumah tersebut secara keseluruhan. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari biaya perbaikan yang membengkak.
  6. Tetangga-tetangga sekitar rumah biasanya sudah saling mengenal. Keakraban ini akan menciptakan suasana yang nyaman dan rasa kekeluargaan yang erat.
  7. Sejarah rumah menentukan harga. Sama seperti cerita rumah Obama di atas, rumah yang pernah ditinggali selebritis atau pejabat, harganya cenderung lebih tinggi dari rumah sekitarnya. Atau mungkin juga pernah tersiar kabar bahwa sering terlihat makhluk halus bergentayangan di rumah tersebut, maka harga rumah cenderung menurun dibandingkan rumah sekitarnya. Untuk itu, tanyakan sejarah rumah kepada pemilik rumah sebelumnya atau cari tahu kepada tetangga dan agen properti yang menangani rumah tersebut.
       Rumah baru
  1. Harganya relatif lebih murah. Karena umumnya dibangun di luar pusat bisnis/pusat kota dengan harga tanah yang lebih murah. Dan rumah-rumah baru dari pengembang (developer) ini bisa memberikan harga yang lebih masuk akal dan sesuai isi kantong Anda.
  2. Akui saja kalau rumah baru punya sensasi yang lebih hebat bila dibanding dengan rumah bekas (second). Apalagi jika Anda membeli rumah baru sekaligus dengan perabotannya. Suasana baru akan sangat terasa ketika Anda menempatinya.
  3. Komunitasnya lebih seragam. Sama-sama warga baru, dengan tipe rumah sama, luas rumah sama, dan di lokasi yang sama. Kondisi ini biasanya memudahkan sosialisasi antar warga.
  4. Pengembalian investasi yang bagus. Seperti pembelian properti investasi lainnya, jika tepat waktu dan lokasinya, membeli rumah baru dari developer bisa menjadi sangat menguntungkan.
  5. Namun jika Anda memilih rumah yang masih dalam tahap pembangunan, biasanya Anda harus siap menunggu rumah Anda dibangun terlebih dahulu dan biasanya ini memakan waktu yang lama. 
Merry Sondang/berbagai sumber
Foto: doc.net

     

Jumat, 14 Mei 2010

autoblackthrough 2010

pada hari sabtu dan minggu tanggal 7-8 kemaren bosmobil.com salah satu dari group PT. Anugerah Gelindo berkesempatan untuk mengikuti event Djarum Black autoblackthrough 2010 yang diadakan di Surabaya. Berikut merupakan hasil dokumentasi dari bosmobil.com yang berhasil gw dapetin.


Sumber : http://www.bosmobil.com/

Selasa, 11 Mei 2010

Tahun 2011, Semua Bangunan Sekolah Terapkan Green School


JAKARTA, KOMPAS.com -  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan seluruh gedung sekolah pada tahun 2011 menerapkan green school building. Ini merupakan upaya Pemprov DKI Jakarta melaksanakan green property, selain menerapkan konsep green buliding standard pada gedung-gedung tinggi di ibu kota.
Tahun 2010 ini, ada dua gedung sekolah yang dijadikan proyek percontohan yaitu, sebuah SD di Semanan, Jakarta Barat dan SMPN 1 Cikini, Jakarta Pusat. Kedua sekolah ini dibangun dengan menerapkan green building secara utuh.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, mulai tahun ini hingga tahun depan, Pemprov DKI akan menerapkan green building standard untuk bangunan sekolah, baik tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK). Sebab DKI ingin menjadikan gedung-gedung sekolah sebagai contoh dan teladan yang baik untuk seluruh bangunan yang akan didirikan di ibu kota.
"Kalau pemerintah saja bisa mendirikan bangunan sekolah dengan menerapkan green building standard maka tidak ada alasan pihak lain tidak bisa menerapkan hal tersebut," kata Fauzi Bowo di Jakarta, Sabtu (8/5).

Pembangunan green school building akan dipusatkan dengan konsep penghematan energi listrik, penggunaan air yang bisa didaur ulang, dan pemanfaatan limbah sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan. Untuk bahan bangunan gedung sekolah, akan diupayakan menggunakan bahan eco- friendly (ramah lingkungan). Termasuk di dalamnya tidak terlalu banyak menggunakan kayu. Karena akan mengakibatkan penebangan pohon di hutan secara tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, konsep green school building merupakan bagian proses pendidikan lingkungan kepada siswa, sehingga mau tidak mau siswa yang sekolahnya sudah berorientasi lingkungan dan mengadaptasi kaidah lingkungan tadi harus memahami pentingnya mencintai dan pelestarian lingkungan.
"Ini juga dapat membantu pembentukan karakter siswa dan manusia Indonesia untuk mencintai lingkungan dan bertanggung jawab melestarikan lingkungan. Barangkali Jakarta kota pertama yang menerapkan konsep ini," tuturnya.

Terkait konsep green school building, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan DKI, Didi Sugandhi, mengatakan, sebenarnya sudah cukup banyak gedung sekolah yang telah menerapkan konsep tersebut. "Gedung sekolah lainnya sudah menerapkan konsep green school tapi belum secara menyeluruh," kata Didi.

Menurutnya, masing-masing sekolah mulai menerapkan untuk meminimalisir penggunaan listrik, kemudian mengoptimalkan sinar tata surya untuk energi listrik. Selain itu akan memaksimalkan limbah cair sehingga bisa digunakan kembali dan membuat lubang biopori.

Biaya perawatan lebih murah
Memang anggaran pembangunan gedung sekolah berkonsep green school building lebih mahal daripada biaya membangun gedung biasa. Namun, biaya pemeliharaannya lebih murah dibandingkan gedung biasa. Untuk tahun ini, rencananya ada 42 gedung sekolah yang akan direhab total oleh Dinas Pendidikan DKI. Seluruhnya tentu akan menerapkan konsep green school building. "Targetnya tahun 2011 seluruh gedung sekolah sudah berkonsep green building," ujarnya.

Kepala Dinas Perumahan DKI, Agus Subardono, mengatakan, untuk menerapkan konsep green building secara utuh, satu bangunan sekolah bisa menelan biaya antara Rp 9 miliar hingga Rp 19 miliar. Sejumlah anggaran itu, Rp 5 miliar di antaranya hanya untuk pembelian solar cell dengan kapasitas daya 6000 watt. Jumlah tersebut belum mencakup rehab konstruksi bangunan yang menelan biaya antara Rp 4 miliar hingga Rp 14 miliar.

"Namun penerapan green building pada sekolah tidak menggunakan solar cell seluruhnya. Hanya beberapa kelas. Sisanya bagaimana bangunan itu didesain agar bisa hemat energi," katanya. Misalnya lebih banyak menggunakan jendela, ventilasi, dan mengurangi penggunaan air conditioner (AC). Selain itu, penggunaan air secara hemat, pengolahan sampah sendiri dan lebih banyak menggunakan kayu pada konstruksi bangunannya. (Berita Jakarta)

Editor: ksp

Sumber : http://properti.kompas.com/read/xml/2010/05/10/19143448/tahun.2011.semua.bangunan.sekolah.terapkan.green.school.