Selasa, 29 November 2011

Arsitektur Lokal Lebih Teruji Ketimbang Modern?



SEMARANG, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Tengah Agung Dwiyanto mengatakan, arsitektur lokal yang kaya nilai-nilai kearifan lokal lebih teruji karena telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu. Para leluhur telah melakukan serangkaian proses rancang bangun hunian secara trial and error sampai mendapatkan bentuk hunian paling pas dan nyaman dengan kondisi di wilayah setempat.

"Bangunan tradisional dengan arsitektural yang kaya kearifan lokal diwariskan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu, artinya bentuk dan kenyamanannya sudah teruji oleh zaman," katanya di Semarang, Selasa (29/11/2011, menanggapi maraknya bangunan berarsitektur modern pada seminar "Konsep Green Building pada Desain dan Pengelolaan Bangunan: Menuju Trend High Building performance" di Unika Soegijapranata Semarang.

Ia menjelaskan, baik pada arsitektural di kawasan pesisir atau di daerah pegunungan, masyarakat setempat telah mewarisi arsitektur tradisional dari nenek moyang yang tinggal di kawasan itu sejak lama. Artinya, kata Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang ini, arsitektur dengan kearifan lokal daerah setempat memang teruji paling nyaman dan pas dengan lingkungan setempat.

Agung mengakui, saat ini banyak arsitek asing yang masuk ke Indonesia ditandai dengan mulai bermunculannya bangunan berarsitektur modern dan menciptakan semacam tren tersendiri dalam bentuk bangunan. Namun, kata dia, patut disadari bahwa peran arsitek lokal dalam mempertahankan filosofi kearifan lokal dalam bentuk bangunan tradisional sangat penting, dan sebaiknya tidak bisa langsung mengadaptasi arsitektur modern.

Ia mencontohkan, bentuk bangunan baru di Bali yang tetap mempertahankan filosofi kearifan lokal setempat dalam arsitektur, termasuk ornamen-ornamen yang tetap bisa ditemukan dalam bangunan baru. Berkaitan dengan masuknya arsitek asing ke Indonesia, ia menilai fenomena itu sudah mulai terlihat setelah perekonomian di Amerika Serikat dan Eropa turun mengakibatkan tidak adanya pembangunan di negara tersebut.

"Akhirnya, mereka (arsitek asing) mulai melirik prospek di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia yang masih melakukan pembangunan. Fenomena ini bisa disikapi secara positif dan negatif," katanya.

Sebenarnya, kata Agung, masuknya arsitek asing ke Indonesia bisa disikapi secara positif oleh arsitek lokal dengan bersinergi untuk mempertahankan nilai kearifan lokal dalam melakukan rancang bangun.



Sumber : www.properti.kompas.com/Arsitektur.Lokal.Lebih.Teruji.Ketimbang.Modern.

Cari rumah..?? Propertykita Lebih banyak pilihanya...!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar