Jumat, 24 Juni 2011

Candra Naya, Cagar Budaya di Kawasan Superblok Modern





JAKARTA, Zaman sekarang, ketika kebanyakan bangunan modern merobohkan bangunan-bangunan kuno, pemandangan di Green Central City justru sebaliknya. Cagar budaya bersejarah Candra Naya justeru tetap dibiarkan berdiri dan dilestarikan.

Chief Operating Officer Green Central City (GCC) Martono Hadipranoto mengungkapkan, bangunan berumur dua abad tersebut justeru hendak dijadikan ikon utama bagi kompleks Green Central City sehingga menjadi landmark Jakarta Kota.

"Fisiknya berupa Green Central City, tetapi jiwanya ada di Candra Naya," kata Martono kepada Kompas.com, Kamis (23/6/2011) .

Martono mengatakan, tinggal dan bekerja di kawasan emas Jakarta sangat membutuhkan kualitas hidup sehat dan sejahtera, baik secara material maupun spiritual. Di tengah hiruk pikuknya Jakarta, kenyamanan dan kelengkapan fasilitas tinggal tentu menjadi penting demi kelangsungan hidup yang lebih baik.

Untuk itu, kata Martono, keberadaan Candra Naya diharapkan menjadi penyempurna superblok seluas 14.000 m2 terdiri dari dua tower apartemen dengan total 844 unit + penthouse, commercial area, skypark, dan tempat parkir luas.

"Tidak lain, kalau berada di jantung kota Jakarta seperti ini, konsepnya adalah memadukan kenyamanan bagi penghuni, juga investasi menguntungkan," ujar Martono.

Ia menambahkan, di kawasan sekitar GCC semua pemenuhan kebutuhan hidup dapat diperoleh, mulai kawasan hunian, bisnis, sosialisasi dan hiburan, dan istirahat bisa dengan mudah ditemui. Plus, lanjut dia, pesona sejarah dan budaya Candra Naya.

Sejarah Tionghoa

Ir Naniek Widayati, arsitek senior dan pemerhati Candra Naya dari Centre of Archticture Conservation mengatakan, pada abad ke-19, sekitar tahun 1800-an, Candra Naya merupakan ru­mah seorang mayor Tionghoa yang bertu­gas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa di Batavia.

Naniek menambahkan, walau masih diragukan kapan tepatnya bangunan ini berdiri, sebuah lukisan yang pernah terpasang di dalamnya dapat dijadikan petunjuk karena terdapat kalimat dalam aksara Cina yang artinya kurang lebih: "Pada tahun kelinci di pertengahan bulan musim rontok dicatat kata-kata ini". Dari tulisan tersebut bisa diketahui, Candra Naya dibangun kira-kira pada ta­hun kelinci api yang jatuh 60 tahun sekali, yaitu antara 1807 atau kemungkinan 1867.

"Setara dengan masa dinasti Ming dan pengaruh dinasti Manchu," Naniek.


Sumber : www.properti.kompas.com/Candra.Naya.Cagar.Budaya.di.Kawasan.Superblok.Modern

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar