Jumat, 17 Juni 2011

Saham Properti tak Semanis Harga Rumah dan Apartemen

JAKARTA  Manisnya laju harga tanah dan properti di Tanah Air ternyata belum bisa dinikmati oleh emiten di sektor urusan bangun-membangun ini.

Sebelumnya, tahun ini diperkirakan harga tanah akan naik 10%-15%, sementara harga properti naik 7%-20%. Seiring dengan membaiknya perekonomian nasional dan rendahnya suku bunga, pertumbuhan kredit properti pada tahun ini pun diproyeksikan bisa meningkat 15%-18%.

Hebatnya, kenyataan yang terjadi di lapangan mampu melebih ekspektasi. Hingga enam bulan pertama tahun ini harga rata-rata properti secara umum di Indonesia mengalami kenaikan hingga 30%.

Menurut CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono, faktor tingginya permintaan yang tak diimbangi suplai yang memadai menjadi faktor utama kenaikan harga ini.

"Harga properti ternyata naik pesat, melebihi ekspektasi per tahun 10-20%. Saat ini sudah sampai 30% dalam satu dua-kuartal ini," kata dia di Jakarta, Kamis (16/6).

Menurut dia, kenaikan ini berlaku umum bagi seluruh pasar properti seperti sektor ritel untuk hunian, perkantoran dan komersil seperti lahan industri akibat terbatasnya lahan. Kenaikan tertinggi terjadi pada segmen ritel hunian khususnya sektor apartemen yang mampu mencapai 30%.

"Ekonomi Indonesia yang sedang bagus menyebabkan daya beli masyarakat meningkat. Jadi wajar kalau harga properti naik," katanya.

Sayangnya, kenaikan harga tanah dan properti di Tanah Air belum kunjung membawa angin segar bagi emiten properti yang terdaftar di lantai bursa. Di satu sisi, memang emiten-emiten sektor properti membukukan kenaikan pendapatan sepanjang kuartal I 2011.
Sebanyak 33 emiten properti dari 42 total emiten properti (9 perusahaan belum menyerahkan laporan keuangan kuartal I) membukukan pendapatan Rp6,12 triliun selama kuartal I 2011, tumbuh 29,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,72 triliun.

Dari 33 perusahaan itu, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatatkan pendapatan tertinggi sebesar Rp881 miliar (tumbuh 25%). PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menempati posisi kedua dan ketiga, masing-masing sebesar Rp619,8 miliar (tumbuh 155,6%) dan Rp691,24 miliar (tumbuh 99,4%).

Sementara dari sisi laba bersih, Agung Podomoro berada di puncak dengan membukukan Rp171,29 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Diikuti oleh Bumi Serpong Damai yang mencatatkan bottom line Rp161,6 miliar serta Lippo Karawaci yang mengantongi laba bersih Rp136,1 miliar.

Namun, jika menilik dari pergerakan harga saham, meski fluktuatif pergerakan harga saham emiten properti cenderung menunjukkan penurunan secara year to date. Saham Lippo Karawaci berada pada posisi Rp680 per lembar pada 30 Desember 2010, namun pada penutupan Rabu (15/6) berada di posisi Rp640 per saham. Saham Bumi Serpong Damai pada hari perdagangan terakhir tahun lalu ditutup di posisi Rp900 per saham dan di posisi Rp880 per saham pada penutupan Rabu kemarin.

Sementara saham PT Bakrieland Tbk (ELTY) turun dari Rp157 per saham pada 30 Desember 2010 ke posisi Rp150 per saham di hari Rabu (15/6).

Direktur Investment Banking Danareksa Sekuritas David Agus menilai, beberapa problem, terutama rendahnya harga properti di Indonesia jika dibandingkan negara Asia lainnya, menjadi penghambat sehingga sentimen investor terhadap saham sektor ini belum seantusias layaknya saham sektor konsumer atau pertambangan. Padahal, kenaikan harga tanah dan bangunan di Tanah Air mengalami kenaikan signifikan dalam dua tahun terakhir.

"Harga properti di Indonesia cenderung murah dibanding luar negeri. Di China, Hongkong atau Singapura emiten properti itu blue chip karena harga tanah di sana mahal," ungkapnya.

Ketika harga tanah tinggi, kata David, otomatis aset emiten meningkat dan berpengaruh pada harga sahamnya. Di luar negeri, menurut dia, harga tanah memang cukup fluktuatif.
"Seperti ketika krisis 2008. Harga tanah di Singapura saat krisis turun. Sedangkan di sini naik terus karena pembeli dan penjualnya itu-itu saja yaitu orang domestik. Sedangkan di luar, pembelinya banyak asing sehingga banyak mempengaruhi harga," ungkap dia.

Ia mengatakan, untuk mengakselerasi naiknya harga tanah dan bangunan, maka sejumlah aturan pemerintah belum sesuai keinginan pengembang, terutama terkait kepemilikan properti asing. Seandainya Undang-Undang mengenai kepemilikan asing terhadap hunian di Indonesia terealisasi, maka bisa terjadi peningkatan harga signifikan.

"Kalau mau dikeluarkan, ya jangan tanggung-tanggung. Kalau pun keluar, pembeli lokal tetap harus diprioritaskan karena pasar besar, lebih dari 60%, dan harus setara. Misalnya, kalau asing dapat hak pakai, pembeli lokal jangan dapat hak guna bangunan (HGB)," ujarnya.

Sumber :  www.mediaindonesia.com/Saham-Properti-tak-Semanis-Harga-Rumah-dan-Apartemen

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar